Gugusan
kepulauan di utara Kabupaten Jepara ini sudah menjadi salah satu destinasi
wisata bagi wisatawan lokal maupun asing. Keindahan bawah laut dan alamnya
memikat sebagian wisatawan untuk singgah dan berlibur di Pulau Karimunjawa.
Ya, Karimunjawa. Sudah begitu akrab di
telinga sebagian masyarakat Indonesia. Mungkin belum sepopuler Bali ataupun
Lombok. Namun Karimunjawa tak kalah dengan dua destinasi wisata tersebut.
Sekarang Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sedang menggalakkan destinasi baru
untuk wisata di Indonesia. Tidak melulu Bali dan Lombok. Sumatera Barat, Aceh
dan Gorontalo menjadi salah satu rujukan yang sedang digarap oleh Kemenpar.
Sama halnya dengan Karimunjawa. Terus
berbenah menjadi destinasi wisata andalan di Jawa Tengah. Potensi alam yang
dimiliki tidak kalah dengan Bunaken. Terumbu karang dan biota laut yang ada di
Karimunjawa masih terjaga. Bukan hanya itu, keramahan warga lokal Karimunjawa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Biro perjalanan banyak yang menawarkan paket
wisata ke Karimunjawa. Hal ini melihat antusiasme dari masyarakat yang
menginginkan liburan di tempat yang berbeda dan belum pernah dikunjungi. Meski
sebagian besar wisatawan yang sudah pernah datang ke Karimunjawa akan datang
lagi ke kepulauan yang berada di wilayah Kabupaten Jepara ini.
Transportasi menuju Karimunjawa bisa
menggunakan kapal ataupun pesawat. Namun saat ini yang mampu menampung
kapasitas cukup besar adalah kapal laut. Ada kapal ferry Siginjai dan kapal
cepat Ekspress Bahari. Kapal ferry Siginjai menempuh perjalanan sekitar enam
jam dari Dermaga Pantai Kartini Jepara. Sedangkan kapal Ekspress Bahari
menempuh waktu sekitar dua jam dari Dermaga Pantai Kartini Jepara.
Sedangkan untuk pesawat terbang
menggunakan pesawat perintis dari Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara
Juanda Surabaya. Pesawat tersebut mampu menampung 10 penumpang. Pesawat itu
akan mendarat di Bandara Dewandaru Karimunjawa.
Untuk kali ini, saya menceritakan menggunakan
kapal cepat Ekspress Bahari. Kebanyakan biro perjalanan menggunakan kapal cepat
Ekspress Bahari sebagai moda transportasi menuju Karimunjawa. Hal itu
dikarenakan waktu tempuh yang cukup cepat, Kapal Ekspress Bahari memiliki
kapasitas angkut sekitar 450 penumpang. Terbagi menjadi dek eksekutif dan VIP.
Harga tiket untuk kapal cepat Ekspress Bahari yakni 150 ribu untuk kelas
eksekutif dan 175 ribu untuk kelas VIP.
Kala itu, saya berangkat dari Dermaga
Pantai Kartini Jepara pada Jumat (30/9) lalu. Dari rumah saya menggunakan
sepeda motor menuju Dermaga Pantai Kartini Jepara. Sesampainya di dermaga,
sepeda motor dititipkan terlebih dahulu di tempat penitipan yang disediakan
oleh dinas terkait. Penitipan tersebut terletak di sebelah utara dermaga.
Dengan tarif 20 ribu. Bagi yang menggunakan mobil pun bisa dititipkan di area
dermaga.
Masih pukul 08.00. Namun suasana riuh
sudah tampak di dermaga. Loket penjualan tiket pun sudah mulai membuka loket
sejak pukul 07.00. Wisatawan lokal dan asing tumpah ruah di dermaga. Agen perjalanan
wisata pun membagikan tiket kapal bagi para wisatawan yang dibawanya. Ada yang
berangkat sendiri dengan mengenakan carrier. Ada yang berpasangan. Ada pula
yang rombongan satu bus. Saya menjumpai dua pasangan yang baru saja menikah.
Keduanya pun saya kenal. Pasangan pertama yakni Bambang beserta istrinya.
Bambang ini adalah teman SMP dulu, dia juga teman sebangku saya selama dua
tahun.
Satunya adalah Mas Jalal. Mas Jalal
adalah pelatih Tapak Suci dan pengajar di MTs Muhammadiyah Kudus. Mas Jalal
juga pergi bersama dengan istrinya. Agak takjub juga sebetulnya. Namun ini
menandakan Karimunjawa menjadi destinasi wisata bagi pasangan yang sedang
berbulan madu.
Pukul 08.45, saatnya memasuki kapal.
Sebelumnya akan dicek oleh petugas. Selain itu bagi wisatawan lokal harus
membayar retribusi masuk Pulau Karimunjawa sebesar 5 ribu. Sedangkan wisatawan
asing dikenakan 25 ribu. Ada yang menarik, kebanyakan wisatawan asing yang
datang ke Karimunjawa sebelumnya sudah berlibur di Jogjakarta. Kata matur nuwun pun sempat terucap dari
salah seorang wisataran Austria. “Matur Suwun Mas,” kata Andrew.
Andrew datang bersama dengan ketiga
temannya. Memang sengaja berlibur ke Indonesia untuk melepas penat. Sebelumnya
dirinya sudah pernah ke Bali. Dirinya penasaran dan ingin datang ke
Karimunjawa. “Indonesia is beautiful,” ucapnya sembari memberikan jempol.
Memasuki kapal Ekspress Bahari yang
dikelola oleh swasta ini agak terombang-ambing karena deburan ombak yang
menghantam kapal. Interiornya cukup bagus. Kursi yang digunakan pun empuk. Ada
beberapa televisi yang digunakan sebagai hiburan bagi para penumpang. Untuk menaruh
tas, penumpang harus meletakkannya di sudut paling belakang kursi terakhir atau
di depan tempat duduk paling depan.
Kapalpun bergerak mundur mencari posisi
berputar untuk menuju Karimunjawa. Rintik hujan mulai menerpa laut. Kapal pun
melaju pelan. Belum dalam kecepatan maksimal. Begitu melewati Pulau Panjang,
kapal Ekspress Bahari semakin cepat. Saat perjalanan untuk menghibur penumpang.
Awak kapal memutar film action. Film
yang berdurasi 95 menit tersebut cukup menghibur dan membuat perjalanan serasa
cepat. Meskipun saat perjalanan diguyur oleh hujan.
Pukul 10.45, Pulau Karimunjawa pun
terlihat dari kejauhan. Jajaran perbukitan yang hijau menunjukkan daratan Pulau
Karimunjawa. Para penumpang sudah tidak sabar. Mereka mengambil tas
masing-masing. Sudah berdiri di dekat pintu. Meski masih cukup jauh. Sekitar 10
menit mereka berdiri. Kapalpun bersandar di Dermaga Karimunjawa. Gerimis turun
di Karimunjawa.
Keluar dari kapal, sudah banyak guide lokal dan beberapa mobil jemputan
yang sudah berjajar rapi. Ini menjadi hal rutin saat weekend datang. Ini rejeki bagi masyarakat lokal. Penjemputan
menggunakan mobil di dermaga ini termasuk harga paket yang ditawarkan biro. Mobil
jemputan ini mengantarkan wisatawan ke hotel, cottage¸ wisma dan homestay
yang ada di Karimunjawa. Saat pulang pun mereka akan dijemput dari penginapan
menuju dermaga. Biayanya sekali jalan 50 ribu.
Saya tidak menggunakan mobil antar
jemput. Karena saya sudah janjian dengan Mas Jafar. Mas Jafar ini adalah
penduduk lokal yang juga guide lokal
Karimunjawa. Namun Mas Jafar tidak dapat menjemput di dermaga karena masih
berada di Kemujan. Kemujan adalah salah satu desa di Karimunjawa. Akhirnya pun
saya diantar oleh penduduk lokal ke rumah Mas Jafar. Tidak kenal siapa yang
mengantarkan, tapi rasanya ini adalah kearifan lokal Karimunjawa. Ramah dan
santun kepada tamu yang berkunjung ke Karimunjawa.
Sekitar pukul 11.30, saya pun sampai di
kediaman Mas Jafar. Rumahnya sederhana. Di rumah itu saya bertemu dengan istri
Mas Jafar, Mbak Lady. Tidak berselang lama, saya pun diantar menuju homestay yang tidak begitu jauh dari
rumah Mas Jafar. Homestay yang saya
tempati terdapat empat kamar. Dua kamar dengan kamar mandi dalam dan dua kamar
kamar mandi luar. Untuk harga homestay
kamar mandi luar 90 ribu. Sedangkan kamar mandi dalam 125 ribu.
Homestay yang saya
tempati cukup nyaman. Dengan kamar sebesar 3x2 meter dengan kipas angin sudah
cukup untuk melepas penat. Satu kamar homestay
ini biasanya diperuntukkan untuk dua orang.
Sekitar pukul 11.45, saya pun bersama
warga lokal menuju Masjid Baitul Muttaqin Karimunjawa. Masih gerimis. Berjalan
kaki kita menuju masjid. Pusat keramaian di Karimunjawa memang dipsusatkan di
sekitar dermaga. Kantor kecamatan, SMP, SMK, Puskesmas, dan Masjid menunjukkan
jantung Karimunjawa. Sepeda motor tidak sebanyak di daerah Jepara. Jalannya pun
tidak begitu luas. Namun mampu untuk simpangan mobil.
Usai melakukan sholat Jumat. Saya pun
bertemu dengan Mas Jafar. Dirinya pun menawarkan untuk mengikuti tour laut setengah hari. Spot snorkeling
yang pertama kali saya kunjungi adalah dekat dengan Pulau Menjangan Kecil.
Hampir satu setengah jam melakukan
snorkeling. Hal ini yang menjadi daya tarik wisatawan. Bisa melihat keindahan
bawah laut. Harta karun tersembunyi di Laut Jawa. Berenang bersama dengan ikan.
Tour guide lokal pun sudah siap
dengan kameranya dan mengabadikan foto di bawah laut.
Perjalanan sore itu diakhiri di Pulau
Menjangan Kecil. Di pulau yang memiliki cottage ini ada beberapa spot yang bisa
digunakan untuk berfoto. Ada pula spot untuk melihat sunset. Ada dua ayunan di
pantai yang digunakan untuk berayun atau sekedar mengabadikan foto. Sekitar
pukul 17.00 kita kembali ke Pulau Karimunjawa.
Dari Dermaga menuju homestay, saya berjalan kaki. Saya melewati kantor pelabuhan
dermaga Pulau Karimunjawa, Kantor Kecamatan Karimunjawa, alun-alun Karimunjawa,
dan Puskesmas Karimunjawa. Saat melintas pun, melempar senyum dan terlihat
ramah.
Malam pun tiba. Mas Jafar mengajak saya ke
alun-alun Karimunjawa. Sudah cukup ramai. Kala itu pukul 20.00. Saat weekend
memang menjadi berkah tersendiri bagi para warga lokal. Ada yang berjulanan
bakso, sate ayam, mie tek tek, nasi goreng, kerang, dan ikan bakar. Kebanyakan
wisatawan makan malam dengan ikan bakar.
Ikan bakar yang dijajakan pun bervariasi. Harganya juga terjangaku berdasarkan besar kecilnya ikan. Mulai dari 25 ribu. Alun-alun Karimunjawa biasanya ramai
hingga pukul 22.00. Selepas itu suasana Karimunjawa sudah mulai sepi. Karena
kebanyakan wisatawan memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Esok paginya masih
ada tour laut seharian full untuki menjelajah Karimunjawa. (*)
Coba ditambahin foto deh biar lebih menarik :)
BalasHapus