Langsung ke konten utama

tulisan akhir januari 2013

Ini tulisan sudah hampir satu tahun, tapi baru diunggah akhir tahun 2013. Buat informasi dan pembelajaran saja deh hehe. mungkin kondisinya sudah berbeda dengan kondisi pada waktu januari 2013. Sebetulnya tugasnya kurcaci kecil hehehe, selamat membaca...
KEPULAUAN SAMPAH
Manusia tak hanya berinteraksi dengan manusia melainkan juga dengan lingkungan sekitar manusia itu tinggal. Lingkungan dapat dibedakan menjadi lingkungan fisik dan non fisik. Lingkungan non fisik ialah lingkungan yang berisi tentang dinamika masyarakat, dimana interaksi sosial masyarakat, konflik dan yang berhubungan dengan keadaan dimana interaksi sosial antar individu terjadi. Lingkungan fisik adalah lingkungan yang dapat kita amati dan kita lihat di sekeliling kita, lingkungan fisik ini juga tidak lepas dari peran manusia dan masyarakat yang ada disekitarnya.
Berbagai macam problematika yang dialami dalam suatu daerah ataupun wilayah semuanya terpusat pada individu dan juga lingkungan mereka. Lingkungan yang nyaman, asri, sejuk pasti akan menimbulkan rasa tenang, nyaman, harmonis dan toleransi antar sesame yang ideal. Berbeda dengan lingkungan yang kotor, kumuh, berantakan, tak teratur pastilah menimbulkan banyak masalah dan ada rasa kiurang nyaman, tidak tenang, kurang harmonisnya sebuah hubungan masyarakat. Sebagai contoh adalah kawasan sekitar perkantoran SAMSAT Jepara, di tempat tersebut terdapat pemukiman penduduk yang sekitar bantaran sungainya penuh dengan sampah dan ini menimbulkan hal yang tak sedap dipandang oleh mata. Lingkungan tersebut menjadi kotor dan penuh sampah dikarenakan sungai tersebut adalah pembuangan dan muara sebelum menuju ke laut.
Hal yang sungguh bertolak belakang jika Jepara meraih penghargaan Adipura, dan ternyata penilaiannya hanya terpusat pada sekitar kota yang bersih, dan hanya kota. Coba jika kita melihat lebih teliti pasti menemukan sampah yang banyak menumpuk dan menimbulkan lingkungan yang kotor pula. Dan ini perlu sebuah tindakan nyata dari masyarakat dan pemerintah. Mengapa demikian karena dilihat dari lingkungan pemukiman tersebut adalah pemukiman yang perlu penanganan khusus dari pemerintah. Dan jika ini dibiarkan terus menerus maka hal seperti akan menjadi kebiasaan. Masyarakat yang tinggal di pemukiman dan lingkungan tersebut pasti tidak nyaman dengan lingkunagn mereka yang tidak bersih, kita menganggap hal ini biasa karena mereka sudah terbiasa dengna lingkungan seperti itu. Tetapi setiap manusia pasti mengingkan hal yang tebaik bagi dirinya dan lingkungannya, ingin nyaman bertempat tinggal. Merasakan kesejukan ketika berada di lingkuang rumahnya. Mereka yang berada  pada lingkungan tersebut juga menginginkan hal tersebut. Tetapi kita tak bisa memaksa, karena semua ini terjadi karena kondisi ekonomi dari setipa individu yang tinggal didaerah tersebut. Mau tinggal dimana lagi jika mereka dipindahkan seumpama, rata-rata masyarakat dipemukiman tersebut bermata pencaharaian sebagai nelayan.
Disamping sungai tersebut ada kantor SAMSAT dan disamping dari pemukiman terdapat Kantor Polsek Jepara. Diapit oleh dua kantor milik pemerintah, setidaknya ada kepedulian dari pemerintah untuk melakukan pembersihan sungai ini. Walaupun sungai ini tak berpengaruh banyak pada lingkungan lain tetapi setidaknya dapat tercipta lingkungan yang nyaman dan merasa tenang jika berada di tempat tersebut. Sampah yang terbawa oleh arus sungai ini kebanyakan berasal dari pemukiman penduduk di sekitar sungai ini. Dapat dilihat dari ilustrasi gambar disamping bahwa lingkungan ini kumuh dan membuat setiap mata yang memandang merasa risih dan kotor.
Tindakan dari masyarakat dan pemerintah diperlukan untuk menanggulangi hal ini, daerah ini berada lingkungan administratif Kabupaten Jepara. Dan tentu ini ada sangkut pautnya dengan dinas lingkungan hidup, dinas kebersihan, dan dinas kesehatan yang ada. Sebagai tindakan perventif maka harus ada sebuah program. Dan program ini tidak berlaku untuk lingkungan ini saja tetapi dapat digunakan di semua lingkungan. Program 1 rumah 2 tempat sampah, program ini merupakan pemisahan antara sampah organik dan anorganik, sehingga setipa rumah memiliki 2 tempat sampah.dan setipa harinya sampah ini dapat diambil oleh tukang sampah. Pemisahan ini dimaksudkan untuk daur ulang produk, sampah ialah limbah yang berarti secara kasat mata tetapi dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Smapah organik dapat dijadikan kompos, dan sampah anorganik dapat didaur ulang dan bernilai jual ekonomis. Dalam program ada beberapa tahapan diantaranya penyuluhan kepada masyarakat yang lingkungannya kotor dan penuh sampah, dilakukan pemberian pendidikan tentang hidup sehat dan penjelasan tenatang dampak lingkunga rusak. Ini dilakukan oleh dinas terkait dan juga LSM dan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Hal ini bertujuan untuk memotivasi masyarakat yang lingkungan nya kotor untuk berbenah dan hidup sehat. Selanjutanya controlling dari pemerintah dari mulai awal hingga berjalannya program ini, dan dari awal sampai seterusnya tetap dilakukan pendampingan terhadap warga untuk pola hidup sehat. Selanjutnya pendidikan kepada remaja di lingkungan tersebut, hal ini diperlukan karena para remaja inilah yang akan banyak memberikan pengaruh pada lingkungannya, pendidikan tentang pola hidup sehat, dan kata yang sudah kita dengar sejak taman kanak-kanak ‘Buanglah Sampah pada Tempatnya’, hal ini dicanangkan kemabali dan dimulai dari diri sendiri. Program ini bersifat jangka panjang jadi perlu waktu untuk menjalankannya dan perlu pengawasan dari pemerintah dan masyarkat. Untuk jangka pendeknya adalah melakukan pembersihan sungai-sungai di sekitar jepara, hal ini dapat dilakukan dengan instruksi dari bupati.

Semua program diatas tidak lepas dari kendala, kendala yang dihadapi ialah kesadaran dari masyarakat, konsistensi pemerintah dan masyarakat, lokasi pemukiman tersebut, kebiasaan masyarakat. Hal yang kecil jka tidak dimulai tidak akan ada bentuk nyatanya, berpikir secara instan cepat tetapi tidak memikirkan jangka panjangnya juga akan menimbulkan masalah baru. Perlu perencanaan dan bentuk. Mulailah budaya bersih dari diri sendiri, jadilah contoh bagi yang lain. Jika kepolisian punya semboyan jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas, maka relevan juga jika ada ‘Jadilah pelopor kebersihan lingkungan’.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Datang Superhero Rajin

Terakhir menulis di blog September lalu. Tulisannya tentang salah seorang suporter Persija yang meninggal. Cukup lama tidak menulis. Sebuah tantangan tersendiri untuk bisa produktif menulis. Sebetulnya ada waktu namun memang malas saja. Berkawan dengan kemalasan lama kelamaan tidak membuat hidup produktif, melainkan semakin tidak berkembang. Benar ini. Saya sudah mengalaminya. Karena sudah mengalami berkawan dengan kemalasan, saya pun berusaha berkawan dengan lawan dari malas. Ya, rajin. Seperti mendukung salah satu tim sepak bola. Jadi kita dihadapkan pada pilihan tim A atau tim B. Itupun kalau salah satu tim merupakan tim yang kita sukai. Kalau tidak kita hanya menjadi penonton saja dan menikmati jalannya pertandingan. Tanpa mendukung salah satu tim. Kondisi tersebut dapat dikorelasikan dengan malas, rajin dan menjadi penonton kemalasan dan ‘kerajinan’. Untuk kerajinan sengaja diberi tanda kutip. Jika tidak ada tanda kutip jadinya kerajinan berupa barang hahaha. Tulisan ini t...

10 Maret 2012

SUDUT BALIK INDONESIA Oleh : Ilham Jabbar Prabowo Roda pemerintah di Indonesia telah berganti dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya. Banyak perubahan yang telah terjadi baik pada pemerintahan pertama hingga sekarang. Bagaimana cara pemimpin menjalankan roda pemerintahan pun sangat berbeda-beda, dapat kita cermati dari pemimpin pertama hingga pemimpin keenam. Negara kita karena menganut sistem presidensill maka kepala pemerintahan kita disebut presiden, jadi untuk kali ini pemimpin akan disebut presiden. Era perjuangan yang diusung sangat berbeda, dapat kita lihat bagaimana para kakek dan nenek kita jika bercerita tentang perjuangan pada jaman mereka kita dapat terenyuh dan serasa berada dalam jaman yang mereka telah lalui. Ada namanya romusa, tanam paksa, kerja rodi, pakaian karung goni, dan lain sebagainya, hal ini merupakan sisa-sisa sejarah yang masih bisa terungkapkan sebelum adanya nama Presiden. Bagaimana para kaum muda pada saat penjajah berjuang, dari kalangan bangsawan, ka...