Terakhir menulis di blog September
lalu. Tulisannya tentang salah seorang suporter Persija yang meninggal. Cukup lama
tidak menulis. Sebuah tantangan tersendiri untuk bisa produktif menulis. Sebetulnya
ada waktu namun memang malas saja. Berkawan dengan kemalasan lama kelamaan
tidak membuat hidup produktif, melainkan semakin tidak berkembang. Benar ini. Saya
sudah mengalaminya. Karena sudah mengalami berkawan dengan kemalasan, saya pun
berusaha berkawan dengan lawan dari malas. Ya, rajin.
Seperti mendukung salah satu tim
sepak bola. Jadi kita dihadapkan pada pilihan tim A atau tim B. Itupun kalau
salah satu tim merupakan tim yang kita sukai. Kalau tidak kita hanya menjadi
penonton saja dan menikmati jalannya pertandingan. Tanpa mendukung salah satu
tim.
Kondisi tersebut dapat dikorelasikan
dengan malas, rajin dan menjadi penonton kemalasan dan ‘kerajinan’. Untuk
kerajinan sengaja diberi tanda kutip. Jika tidak ada tanda kutip jadinya
kerajinan berupa barang hahaha. Tulisan ini tidak ada maksud apapun ataupun
menyinggung. Lebih tepatnya menyinggung diri sendiri.
Dua pilihan yang harus dipilih
antara malas dan rajin. Tidak ada pilihanya lainnya. Jika netral tentu tidak
ada yang dilakukan dan tanpa berbuat apa-apa. Berarti dikategorikan malas. Kondisi
malas ini sebetulnya lumrah dimiliki setiap manusia. Tetapi kembali apakah
manusia tersebut memilih bersahabat dengan malas atau melawannya. Jika memilih
melawan maka superhero rajin menjadi sahabat karibnya.
Superhero rajin ini akan tampak pada
pribadi manusia tanpa harus dikomando. Selain itu juga karena pembiasaan. Begitu
halnya dengan malas. Kata orang ‘malas kok dipelihara’. Ayam dipelihara
bertelur lah malas jadi apa dong ? kalau
ayamnya jago kan tidak bertelur wkwk.
Ada kisah menarik yakni salah satu
karakter dalam serial animasi Spongebob The Quarepants yakni Pattrick Star. Ini
salah satu penggambaran yang bersahabat dengan kemalasan. Pattrick bisa berdiam
diri sambil membuka mulutnya hingga berjam-jam. Mungkin terlihat malas dan
memang malas haha. Karena kalah produktif dengan Spongebob yang melakukan
kegiatan di Krusty Krab. Tapi Pattrick mengganggap kemalasan yang dia lakukan
merupakan aktifitas. Cukup membingungkan? Agak remeh memang. Hanya membuka
mulut dan bertahan berjam-jam hal tersebut jika dilakukan di dunia nyata
mungkin tidak ada. Tapi ada hal yang cukup menarik. Dibalik kemalasan yang
diperankan oleh Pattrick ternyata dia mendalami kemalasan itu.
Layaknya bilangan negatif dikalikan
dengan bilangan negatif yang terjadi adalah menjadi bilangan positif. Berdiam diri
dengan membuka mulut tentu memiliki konsentrasi tinggi. Hal itu memiliki nilai
positif karena mengolah konsentrasi menjadi lebih baik.
Tapi, kok tapi lagi ya haha. Memang kali
ini banyak pertentangan yang saya munculkan. Tanpa adanya pertentangan tidak
membuat kita mengerti hidup ini. Balik ke malas tadi, meskipun melatih
konsentrasi dengan baik namun tidak patut dicontoh di kehidupan nyata. Ada hal
yang patut digaris bawah yakni melatih konsentrasi menjadi lebih baik. Kalau ini
dilakukan dengan sifat rajin tentu menjadikan bilangan positif bertemu dengan
bilangan positif menjadi double positif. Luar biasa.
Jadi intinya memilih antara rajin
dan malas itu harus dilakukan oleh manusia. Oh iya, malas ini juga berdampak
banyak kepada hidup manusia loh. Karena kekecewaan akan datang di akhir. Jadi yang
saat ini merasa malas dan kurang energy atau semangat sudah saatnya berbenah
dan merubah condong diri menuju ke arah rajin. Dari kuadran x menuju kuadran y.
Saya sendiri pun punya tekat satu
hari satu tulisan. Satu hari satu buku yang dibaca. Semoga ini bisa istiqomah
dan bertahan. Karena saya sudah terlalu lama berkawan dengan kemalasan. Dari satu
sifat kemalasan ini berdampak pada sifat negatif lainnya. Yuk berubah dan
menjadi pribadi sendiri tanpa paksaan orang lain dan sukai apa yang kamu suka. Lakukan
yang sudah dilakukan. Tekuni dan cintai.
Salam Telo, Happy Monday 😀
semoga rajin selalu ya om :)
BalasHapus