Langsung ke konten utama

IDENTITAS NASIONAL “Lupa atau Tak Ingat”


Setiap makhluk yang diciptakan dimuka bumi ini memiliki sebuah penanda untuk lebih mudah dikenali. Manusia, hewan, tumbuhan, semua yang mengisi alam semesta ini pasti memiliki sebuah penanda. Penanda itu sering kita sebut dengan identitas. Identitas ini merupakan hal yang harus dimiliki setiap warga negara yang bermukim disuatu negara. Setiap kali kita mengikuti sebuah aktifitas apapun pertama kali yang ditanyakan adalah ‘Identitas’. Identitas bagi setiap manusia dapat kita ketahui dengan cara pengisian form di setiap kebutuhan. Contohnya untuk mendaftar sekolah, mendaftar kerja, membuat KTP, membuat paspor, menjadi nasabah di sebuah bank, sebelum menikah pun kita mengisi form identitas. Sebuah identitas sangatlah penting bagi setiap individu yang bermukim di suatu wilayah untuk dapat saling mengenal satu sama lain. Jika dikorelasikan dengan sebuah negara pasti setiap negara memiliki yang dinamakan identitas nasional.
Identitas berasal dari kata ‘Identity’ yang memiliki arti ciri-ciri, tanda atau jati diri. Dalam artian antropologi identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi, golongan sendiri, kelompok sendiri, atau negara sendiri. Jadi definisi identitas sendiri adalah ciri-ciri, tanda-tanda, jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang bisa membedakannya.
Identitas nasional berasal dari kata "national identity" yang dapat diartikan sebagai "kepribadian nasional" atau "jatidiri nasional". Identitas nasional adalah jatidiri yang dimiliki oleh suatu bangsa. Identitas bangsa Indonesia akan berbeda dengan identitas bangsa Australia, bangsa Amerika dan bangsa lainnya. Identitas nasional itu terbentuk karena bangsa Indonesia mempunyai pengalaman bersama, sejarah yang yang sama, dan penderitaan yang sama dan juga terbentuk melalui adanya saling kerjasama antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Meskipun memiliki banyak perbedaan, namun keinginan kuat diantara mereka untuk saling merekatkan kelompoknya dengan kelompok lain dapat juga membentuk identitas.        
Identitas nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri khas. Dengan ciri-ciri khas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya.
Diletakkan dalam konteks Indonesia, maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum masuknya agama-agama besar di    bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang kemudian dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional dengan acuan Pancasila dan   Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hakikat identitas nasional kita sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam berbagai penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam Pembukaan beserta UUD kita, sistem pemerintahan yang diterapkan, nilai-nilai etik, moral, tradisi, bahasa, mitos, ideologi, dan lain sebagainya yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan, baik dalam tataran nasional maupun internasional.
Hakikat identitas nasional Indonesia adalah pancasila yang diaktualisasikan dalam berbagai kehidupan dan berbangsa. Aktualisasi ini untuk menegakkan pancasila dan UUD 1945    sebagaimana dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945 terutama alinea ke-4
Krisis multidimensi yang kini sedang melanda masyarakat kita menyadarkan bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan Identitas Nasional kita telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri negara kita dalam pembukaan, khususnya dalam Pasal 32 UUD 1945 beserta penjelasannya, yaitu :“Pemerintah memajukan Kebudayan Nasional Indonesia “ yang diberi penjelasan :
” Kebudayan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budaya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli mendapat tempat bagi puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia “.
Identitas nasional memiliki 4 unsur utama yaitu,yang pertama ialah suku bangsa adalah golongan sosial khusus yang sudah ada sejak lahir, yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Kedua Agama, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis. Agama yang berkembang di Indonesia antara lain Islam, Kristen, Katholik, Budha, Kong hu cu. Ketiga,  kebudayaan merupakan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang berisikan perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagai pedoman untuk bertindak dalam bentuk kekuatan dan benda-benda kebudayaan. Dan yang keempat bahasa merupakan unsur komunikasi yang dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia.
Kita tahu bahwa identitas nasional atau jatidiri nasional itu adalah jatidiri yang dimiliki warga negara dan suku bangsa dari suatu negara. Identitas nasional atau jatidiri nasional itu ada dalam interaksi, maka dapatlah kita katakan bahwa jatidiri itu diperlukan dalam interaksi. Karena didalam setiap interaksi para pelaku interaksi mengambil suatu posisi dan berdasarkan posisi tersebut para pelaku menjalankan peranan-peranannya sesuai dengan corak interaksi yang berlangsung. Maka dalam berinteraksi orang berpedoman pada kebudayaannya. Jika kebudayaan kita katakan bagian dari identitas nasional, maka kebudayaan itu juga dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk berbuat dan bertingkah laku.
Dapat kita sadari ataupun tidak sebuah identitas nasional itu hanyavdigunakan pada saat diperlukan. Apa sebetulnya hakikat dari identitas nasional, hanya sebuah kata ataupun hanya sebuah status yang digunakan Negara Indonesia tercinta ini. Hanya berapa gelintir orang yang merasa memiliki tanah dan air yang kita injak setiap hari ini. Berapa orang yang peduli dengan setiap peristiwa yang dialami oleh ibu pertiwi. Sampai ada senandung ‘Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati’. Ini yang membuat kita sebagai bangasa yang katanya beradab, bermoral, bermartabat menjadi terlihat tidak tegas dengan kondisi yang dialami negerinya sendiri. Itu hanya masalah senandung. Coba kita tilik sebentar beberapa waktu kebelakang pada jaman orde baru di era kepemimpinan Soeharto. Penanaman nilai pancasila begitu gencar digemborkan tidak hanya bagi kalangan pelajar tetapi menyentuh seluruh elemen massyarakat. Pada masa itu sisitem yang otoriter karena seluruh keputusan ditentukan oleh penguasa terlihat seperti merugikan rakyat, tetapi jika rakyat ditanya  sebagian besar akan bilang bahwa pada jaman orde baru lebih baik dari jaman reformasi seperti ini.
Penggagas reformasi Prof. Dr. Amien Rais, M.A telah menerapkan system pembaharuan yang sesuai dengan yang dinamakan demokrasi. Tetapi setelah 14 tahun ternyata kata demokrasi kita menjadi terlalu vulgar, demokrasi kita kebablasan. Reformasi kita menjadi berantakan. Sebuah ironi bagi Negara yang telah 67 tahun merdeka tetapi tetap tak saling mendukung satu sama lain. saling serang satu sama lain. Padahal dalam sumpah pemuda disebutkan “berbangsa satu bangsa Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia”. Dengan semboyan Negara yang kita cintai ini  “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetap satu jua. Kita masih bisa bersyukur diberi akal oleh tuhan tetapi mengapa Negara kita tidak bisa aman, tentram, nyaman, yang muncul hanyalah gerutuan, cacian, makian. Hanya sedikit yang bisa kita banggakan kata sebagian makhluk yang dinamakan manusia dibumi Indonesia raya ini. Mereka yang bilang begitu akan saya katakan buta terhadap lingkungan. Jika dia tak bangga dengan negeri ini untuk apa di masih berda di tanah air ini. Dia tak sadar mencari nafkah, ilmu, buang hajat pun dibumi Indonesia ini.
Paparan yang telah tersirat diatas adalah gambaran betapa dahsyatnya penanaman ideology Negara yang diawali dengan pengenalan identitas. Jika tak tahu identitasnya sendiri maka akan hancurlah Negara ini. Pondasi yang telah dibuat oleh para founding fathers kita hanyalah tinggal sejarah yang tersusun rapi di perputakaan, arsip nasional, tercetak rapi di buku pelajaran sejarah, kewarganegaraan. Hanya sebatas itu manusia Indonesia ini mengerti dan tahu akan identitas nasional.
Ada satu sekolah disalah satu wilayah di Jawa Tengah menerapkan hal yang sebetulnya kecil dan dianggap remeh. Sebelum masuk sekolah, sebelum memulai pelajaran seluruh siswa dan guru menyanyikan lagu Indonesia Raya lagu kebangsaan Republik Indonesia. Hanya beberapa menit saja tapi terus setiap hari. Ini adalah pemnafaatan symbol Negara mengingatkan kembali bahwa kita adalah putra bangsa Indonesia. Pengenalan identitas Negara lewat symbol dapat diajdikan salah satu solusi bagi setiap warga Negara untuk mengenal Negara dan bangsanya.
Identitas Negara Indonesia haruslah kembali hadir di setiap warga Negara Indonesia. Ditengah perkembangan jaman yang begitu cepat semuanya dapat diakses dalam sekejap mata. Kita perlu melakukan penyelamatan terhadap identitas bangsa kita agar tidak tercemar oleh budaya-budaya asing yang masuk dlam era globalisasi ini. Lebih pintar dan arif dalam menfilter setiap kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Kadang kita itu lupa bahwa kita hidup di Indonesia kita tak menampakkan jati diri bangsa Indonesia melainkan lebih suka meniru kebudayaan barat. Ini yang harus kita sikapi bersama bahwa identitas nasional itu sangat penting karena dari identitas nasional dapat menampakkan kepribadian suatu bangsa. Mari kita bersama-sama saling instropeksi diri menata ulang setiap yang terjadi pada Negara tercinta. Dimulai dari siapa, mulai dari diri kita masing-masing agar tercipta kepribadian bangsa yang hakiki. Semga kita selalu ingat bahwa Identitas Nasional kita adalah bersumber pada budaya yang tersirat dalam Pancasila.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Datang Superhero Rajin

Terakhir menulis di blog September lalu. Tulisannya tentang salah seorang suporter Persija yang meninggal. Cukup lama tidak menulis. Sebuah tantangan tersendiri untuk bisa produktif menulis. Sebetulnya ada waktu namun memang malas saja. Berkawan dengan kemalasan lama kelamaan tidak membuat hidup produktif, melainkan semakin tidak berkembang. Benar ini. Saya sudah mengalaminya. Karena sudah mengalami berkawan dengan kemalasan, saya pun berusaha berkawan dengan lawan dari malas. Ya, rajin. Seperti mendukung salah satu tim sepak bola. Jadi kita dihadapkan pada pilihan tim A atau tim B. Itupun kalau salah satu tim merupakan tim yang kita sukai. Kalau tidak kita hanya menjadi penonton saja dan menikmati jalannya pertandingan. Tanpa mendukung salah satu tim. Kondisi tersebut dapat dikorelasikan dengan malas, rajin dan menjadi penonton kemalasan dan ‘kerajinan’. Untuk kerajinan sengaja diberi tanda kutip. Jika tidak ada tanda kutip jadinya kerajinan berupa barang hahaha. Tulisan ini t...

10 Maret 2012

SUDUT BALIK INDONESIA Oleh : Ilham Jabbar Prabowo Roda pemerintah di Indonesia telah berganti dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya. Banyak perubahan yang telah terjadi baik pada pemerintahan pertama hingga sekarang. Bagaimana cara pemimpin menjalankan roda pemerintahan pun sangat berbeda-beda, dapat kita cermati dari pemimpin pertama hingga pemimpin keenam. Negara kita karena menganut sistem presidensill maka kepala pemerintahan kita disebut presiden, jadi untuk kali ini pemimpin akan disebut presiden. Era perjuangan yang diusung sangat berbeda, dapat kita lihat bagaimana para kakek dan nenek kita jika bercerita tentang perjuangan pada jaman mereka kita dapat terenyuh dan serasa berada dalam jaman yang mereka telah lalui. Ada namanya romusa, tanam paksa, kerja rodi, pakaian karung goni, dan lain sebagainya, hal ini merupakan sisa-sisa sejarah yang masih bisa terungkapkan sebelum adanya nama Presiden. Bagaimana para kaum muda pada saat penjajah berjuang, dari kalangan bangsawan, ka...

tulisan akhir januari 2013

Ini tulisan sudah hampir satu tahun, tapi baru diunggah akhir tahun 2013. Buat informasi dan pembelajaran saja deh hehe. mungkin kondisinya sudah berbeda dengan kondisi pada waktu januari 2013. Sebetulnya tugasnya kurcaci kecil hehehe, selamat membaca... KEPULAUAN SAMPAH Manusia tak hanya berinteraksi dengan manusia melainkan juga dengan lingkungan sekitar manusia itu tinggal. Lingkungan dapat dibedakan menjadi lingkungan fisik dan non fisik. Lingkungan non fisik ialah lingkungan yang berisi tentang dinamika masyarakat, dimana interaksi sosial masyarakat, konflik dan yang berhubungan dengan keadaan dimana interaksi sosial antar individu terjadi. Lingkungan fisik adalah lingkungan yang dapat kita amati dan kita lihat di sekeliling kita, lingkungan fisik ini juga tidak lepas dari peran manusia dan masyarakat yang ada disekitarnya. Berbagai macam problematika yang dialami dalam suatu daerah ataupun wilayah semuanya terpusat pada individu dan juga lingkungan mereka. Lingkungan yang n...