Setiap manusia pasti memiliki impian dan angan-angan yang menjadikan diri mereka berjuang untuk mendapatkan impian dan harapan mereka. Merupakan suatu hal yang wajar bagi setiap individu bahkan keharusan setiap jiwa manusia. Mungkin kita masih ingat dengan pepatah bahwa gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Awal mendengarnya pribadi ini agak kaget dan tersentak, mungkin bisa tertawa terbahak-bahak. Bayangkan saja cita-cita itu digantungkan, ini yang menyebabkan generasi sekarang memiliki cita-cita yang sangat luar biasa, tapi semuanya hanya digantungkan. Sebetulnya kata tersebut kurang relevan bila ditelan mentah-mentah karena setiap manusia berhak memilih dan memiliki cita-cita yang tinggi, tapi tidak hanya digantungkan haruslah didapatkan. Bagaimana cara mendapatkan hal tersebut, dengan berusaha tanpa kenal lelah.
Kadang ada orang yang mengungkapkan keluh kesahnya untuk apa dia hidup di dunia ini, buat apa dia bersekolah tinggi, untuk apa semua aktifitas yang dilakukannya. Jika ditilik dari semua pertanyaan tersebut sebetulnya manusia ini sedang belajar menemukan siapa dirinya, apa tujuan dia hidup, apa yang ingin dicapainya. Pertanyaan ini wajar hinggap pada setiap pribadi manusia baik remaja maupun yang sudah dewasa. Kenapa bisa sampai dewasa, ini masalah kepribadian banyak psikoanalis yang menerjemahkan bahwa pencarian jati diri seseorang itu tidak terbatas oleh umur dan bentuk fisik. Maka dengan setiap kejadian yang dialami setiap hari kita bisa belajar dan merasakan hal-hal yang ingin kita capai dan kita inginkan.
Dalam buku serial emotional spiritual quotient disitu banyak sekali disebutkan keseimbangan antara intelektual, emosi, dan spiritual. Kadar kesuksesan setiap manusia dapat dilihat dari keseimbangan emosi, intelektual, dan spiritual. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa intektual itu adalah segalanya, ya inilah yang kita pelajari sampai sekarang mungkin. Buktinya jika kita disuruh untuk menggambar pemnadangan, gambar apa yang akan muncul ?, dari kebanyakan pasti yang akan muncul adalah ada dua gunung dengan aksesorisnya. Adalagi jika kita diminta untuk menggambarkan bebek, pasti bebek tersebut akan menghadap kekiri semua, karena kita menggambar bebek berawal dari angka dua. Nah, inilah yang terjadi pada diri kita, kecerdasan intelektual ini yang mendikte kita melakukan hal tersebut. Kecerdasan intelektual ini tak bisa dijadikan patokan orang akan sukses ataupun malah bahagia, beum tentu. Kecerdasan emosi hal ini behubungan erat dengan suara hati dan pengendalian sikap sehari-hari, aktivitas, soft skills. Hal ini pun belum bisa dijadikan ukuran seseorang sukses ataupun bahagia. Manusia pada umumnya ingin dipuji, mendapatkan pengakuan jika pada satu sisi mereka tidak menemukan hal tersebut maka mereka akan mencari dan terus mencari apa yang sebenarnya diingikan oleh hatinya. Kecerdasan spiritual hal ini yang akan menjadi tolak ukur dan melengkapi indicator kebahagian dan kesuksesan seseorang. Jika ketiga elemen ini diseimbangkan maka yang terjadi adalah kedamaian jiwa, kebahagian. Sedikit bahwa kebahagian berada pada hati kita masing-masing pribadi manusia.
Siapa yang tak ingin sukses didunia ini, pasti semua ingin menjadi sukses didunia. Ada yang akan bilang seperti ini, itu saja belum cukup kawan sukses didunia juga sukses di akhirat. Itulah manusia dimana Allah telah memberikan akal serta pikiran untuk berpikir. Tapi apa sebetulnya indikator sukses itu? Setiap orang pasti memiliki patokan dan indikator berbeda. Mengapa saya tuliskan seperti itu karena kesuksesan akan nampak dari diri masing-masing, seperti halnya kebahagiaan. Semuanya terletak pada hati.
Persepsi masyarakat, penilaian masyarakatt yang mengatakan bahwa orang itu sukses, sukses itu rumahnya banyak ada dimana-mana, mobilnya ada 7 dan lain sebagainya. Itu penilaian masyarakat, mereka menilai pada finansial seseorang. Sebetulnya kita dapat melihat contoh konkret di Indonesia, banyak warga urban di Jakarta, mereka ke Jakarta untuk mengadu nasib, mencari pekerjaan tanpa sedikit yang memiliki keahlian khusus. Pandangan orang desa bahwa seseorang yang telah pergi merantau pasti mereka pulang dengan berlimpah harta dan itu sudah dikatakan sukses. Fenomena yang tak ada di belahan dunia manapun dan hanya ada di bumi Indonesia tercinta kata ini sangat familiar di telinga kita “MUDIK” ini terjadi saat menjelang hari raya Idul Fitri dan ini menjadi salah satu liputan resmi disetiap media cetak dan elektronik. Orang yang pulang merantau pasti memiliki uang yang tak sedikit dan ini banyak yang tak mengetahui bahwa sebetulnya orrang yang pulang merantau itu bnyak meninggalkan hutang di perantauannya. Biaya untuk pulang kampung itu tidak sedikit, berbagi dengan saudara. Ini menimbulkan masalah bagi pribadinya, pengakuan dari masyarakat yang mereka dapatkan. Tetapi kebahagian nya sesaat. Ini harus kita cermati bahwa tak selamanya kesuksesan itu berbanding lurus dengan kebahagian.
Kita harus tahu siapa diri kita sebenarnya, tujuan kita , dan apa yang ingin kita capai. Keselarasan antara kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual yang akan menjadikan kesuksesan dan kebahagian satu garis lurus. Dan ini satu tambahan lagi bahwa janganlah terpaku dengan satu pokok hal, banyak sudut pandang yang harus dilihat. Letakkan diri kita pada setiap kondisi yang sesuai. Banyak pandangan dan persepsi akan menambah khasanah bagi kita. Terus kembangkan “out of the box” ini yang membuat orang-orang memiliki imajinasi dan menyalakan setiap imasjinasi menjadi sebuah keajaiban dan kenyataan.
-keep smile-
Komentar
Posting Komentar