Langsung ke konten utama

Sudah(kah) Mencerdaskan Kehidupan Bangsa ?



Selamat Hari Pendidikan Nasional. Ya, hari pendidikan nasional yang biasa disingkat hardiknas selalu didengungkan saat 2 Mei tiap tahunnya. Sedikit telat dengan momennya pada tanggal tersebut karena tulisan ini saya buat dua hari setelahnya. Tapi tidak mengapa, toh menurut saya hari pendidikan itu setiap hari. Hanya saja memang perlu diperingati.



Tak habis berbicara tentang pendidikan. Ada beberapa tokoh pendidik yang saya rasa berpengaruh di Indonesia. Kali ini saya mencoba memberikan beberapa contoh pendidik yang memiliki peran. Ki Hajar Dewantara, laki-laki asal Jogjkarta ini disebut sebagai bapak pendidikan Indonesia. Taman Siswa salah satu produk nyatanya. Jargonnya juga masih digunakan, Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Kata-kata itu masih bisa kita lihat di topi sekolah yang saat ini digunakan.




Sebelum Ki Hajar Dewantara ada laki-laki asal Jogja juga KH. Ahmad Dahlan. Laki-laki yang memiliki nama kecil Muhammad Darwis ini pun pelopor pendidikan kekinian pada jamannya. Era pertama yang menggunakan nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyyah Islamiyah. Memadukan cara belajar budaya barat dengan kultur jawa yang sudah ada.  




Saat ini sudah banyak perkembangan pendidikan di Indonesia. Tokoh pendidikan juga semakin banyak, golongan muda pun ikut ambil bagian dalam memajukan pendidikan di Indonesia.  Anies Rasyid Baswedan contohnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenalnya. Dalam beberapa bulan terakhir dirinya banyak nampang di media eletronik, media sosial dan media cetak. Yak, mantan rektor Universitas Paramadina ini menjadi calon gubernur DKI Jakarta versi real count.  Sebelum itu, kiprahnya dikenal dengan mengembangan Indonesia Mengajar. Gerakan yang menyalurkan para lulusan akademisi muda untuk mengabdi di beberapa daerah di Indonesia. Tujuannya adalah memberikan pendidikan yang merata di setiap tanah Nusantara.




Masih ada lagi gerakan grass root lainnya seperti ruangguru.com. Ada pula gerakan sekolah yang diperuntukkan bagi anak jalanan. Ada pula untuk anak yang kurang mampu. Semua terkoordinir dengan massif. Tujuannya apa ? Tujuannya sama. Yakni untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Cerdas. Ya Encer Endase. Atau tokcer otaknya. Membuka wawasan lebih luas untuk melihat dunia. Pendidikan juga penting untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dengan pendidikan masyarakat tidak mudah dibodohi dengan berita atau kabar yang tidak benar. Dengan pendidikan masyarakat memiliki pandangan lain terhadap kehidupan.




Namun, ironi pendidikan kita belum sampai pada titik tersebut. Mencerdasakan kehidupan bangsa masih menjadi impian yang terus mencoba kita raih. Tidak dipungkiri, pendidikan memang belum merata. Kesenjangan antara pusat pemerintahan dengan pendidikan di daerah berbeda. Adanya penyeimbang seperti Ujian Nasional menjadi salah satu solusinya. Maksudnya, ujian ini menjadi standar tersendiri bagi siswa yang bersekolah di Indonesia.




Saya lebih suka dengan kata mendidik daripada mengajar. Mengajar lebih condong memberikan pelajaran dan sebagai cara untuk mengetahui hal yang baru. Sedangkan mendidik adalah cara yang dilakukan untuk perkembangan dan bekal untuk masa depan.




Kemudian saya sadari bahwa mengajar dan mendidik adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena keduanya saling bertanggung jawab masing-masing. Guru, profesi ini mulia. Mereka multi tasking. Mendidik dan mengajar. Bukan perkara mudah. Afdholnya seorang guru adalah bisa mengajar dan mendidik. Kembali pada jargon Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. “ Di Depan Memberi Contoh, Di Tengah Memberi Semangat, Di Belakang Memberi Kekuatan”.




Alangkah lebih baiknya jika guru mencakup dua aspek tersebut. Karena jika hanya satu saja yang dimiliki tentunya tidak imbang. Harus seimbang. Karena selain keluarga yang memberikan pendidikan dan pengajaran, guru di sekolah juga memiliki andil yang cukup kuat bagi perkembangan siswanya.




Kedepannya, semoga pendidikan di Indonesia terus berkembang dan menemukan formula yang tepat. Tidak hanya di lingkungan pusat pemerintahan saja. Namun juga menyeluruh di seluruh wilayah Republik Indonesia.  Lagi, lagi tujuannya yakni untuk mencapai tujuan mulia. Mencerdasakan kehidupan bangsa.  Tak perlu lagi menyalahkan sistem pendidikan yang berubah saat menterinya berganti. Yang harus dilakukan saat ini mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas tiap individu di Indonesia. Kemauan dan keinginan yang harus ditanamkan sejak dini. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Datang Superhero Rajin

Terakhir menulis di blog September lalu. Tulisannya tentang salah seorang suporter Persija yang meninggal. Cukup lama tidak menulis. Sebuah tantangan tersendiri untuk bisa produktif menulis. Sebetulnya ada waktu namun memang malas saja. Berkawan dengan kemalasan lama kelamaan tidak membuat hidup produktif, melainkan semakin tidak berkembang. Benar ini. Saya sudah mengalaminya. Karena sudah mengalami berkawan dengan kemalasan, saya pun berusaha berkawan dengan lawan dari malas. Ya, rajin. Seperti mendukung salah satu tim sepak bola. Jadi kita dihadapkan pada pilihan tim A atau tim B. Itupun kalau salah satu tim merupakan tim yang kita sukai. Kalau tidak kita hanya menjadi penonton saja dan menikmati jalannya pertandingan. Tanpa mendukung salah satu tim. Kondisi tersebut dapat dikorelasikan dengan malas, rajin dan menjadi penonton kemalasan dan ‘kerajinan’. Untuk kerajinan sengaja diberi tanda kutip. Jika tidak ada tanda kutip jadinya kerajinan berupa barang hahaha. Tulisan ini t...

Eksotisme Pulau Di Utara Jepara -1

Gugusan kepulauan di utara Kabupaten Jepara ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata bagi wisatawan lokal maupun asing. Keindahan bawah laut dan alamnya memikat sebagian wisatawan untuk singgah dan berlibur di Pulau Karimunjawa. Ya, Karimunjawa. Sudah begitu akrab di telinga sebagian masyarakat Indonesia. Mungkin belum sepopuler Bali ataupun Lombok. Namun Karimunjawa tak kalah dengan dua destinasi wisata tersebut. Sekarang Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sedang menggalakkan destinasi baru untuk wisata di Indonesia. Tidak melulu Bali dan Lombok. Sumatera Barat, Aceh dan Gorontalo menjadi salah satu rujukan yang sedang digarap oleh Kemenpar. Sama halnya dengan Karimunjawa. Terus berbenah menjadi destinasi wisata andalan di Jawa Tengah. Potensi alam yang dimiliki tidak kalah dengan Bunaken. Terumbu karang dan biota laut yang ada di Karimunjawa masih terjaga. Bukan hanya itu, keramahan warga lokal Karimunjawa   menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Biro pe...

Perlu Korban untuk Pendewasaan Suporter

Haringga Sirila. Salah seorang suporter JakMania yang menjadi perbincangan beberapa hari ini. Suporter militan Persija itu meninggal karena dikeroyok sejumlah suporter Persib Bandung. Minggu (23/9) lalu menjadi minggu kelabu bagi sepak bola Indonesia dan suporter Indonesia.  Rivalitas Persija Jakarta dan Persib Bandung sudah terjadi sejak era persyarikatan. Tidak hanya klub nya saja yang bersaing di dalam lapangan selama 90 menit. Namun juga berimbas pada suporter. Ya, JakMania dan Bobotoh. Haringga bukan satu-satunya korban melainkan korban yang sudah lebih dari 50 orang.  Duel El Classico layaknya Real Madrid melawan Barcelona di Liga Spanyol. Manchester United melawan Liverpool di Liga Inggris. Duel sekota layaknya Inter Milan dengan AC Milan yang cukup menyedot banyak penonton. Kejadian meninggalnya suporter saat laga sepak bola tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Inggris punya sejarah kelam. Tragedi Heysel, saat pertandingan final Liga Champions antara Liverpool...